Cara Memilih Kain untuk Jaket Outdoor: Jangan Hanya Lihat Waterproof

Memilih kain untuk jaket outdoor bukan hanya soal waterproof. Kenali faktor perlindungan air, gramasi, konstruksi kain, ketahanan, kenyamanan, dan kebutuhan penggunaan sebelum menentukan bahan.

Ketika mencari kain untuk membuat jaket outdoor, banyak orang langsung bertanya: “Apakah kain ini waterproof?”

Pertanyaan tersebut penting, tetapi belum cukup. Jaket outdoor yang baik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kain menghadapi air. Berat kain, konstruksi, ketahanan, kenyamanan, finishing, serta kondisi penggunaan juga perlu dipertimbangkan.

Kain untuk jaket hiking ringan tentu dapat memiliki kebutuhan berbeda dengan jas hujan, jaket kerja lapangan, atau jaket untuk aktivitas sehari-hari.

Karena itu, sebelum memilih bahan, tentukan terlebih dahulu jaket tersebut akan digunakan untuk apa.

1. Mulai dari Kondisi Penggunaan Jaket

Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih kain terlebih dahulu, baru memikirkan fungsi produknya.

Untuk produksi, pendekatan yang lebih baik justru sebaliknya: tentukan kondisi penggunaan, kemudian cari karakter kain yang sesuai.

Beberapa pertanyaan sederhana yang dapat membantu antara lain:

  • Apakah jaket digunakan sehari-hari atau untuk aktivitas outdoor?
  • Apakah hanya membutuhkan perlindungan dari angin dan percikan air?
  • Apakah jaket akan sering terkena hujan?
  • Apakah pengguna membutuhkan jaket yang ringan dan mudah dilipat?
  • Apakah aktivitas membutuhkan material dengan ketahanan lebih tinggi?
  • Apakah jaket digunakan di lingkungan panas, dingin, atau berubah-ubah?

Jawaban dari pertanyaan tersebut akan membantu mempersempit pilihan material.

2. Jangan Menyamakan Water Repellent dengan Waterproof

Untuk jaket outdoor, istilah water repellent (WR) dan waterproof (WP) sering menjadi pertimbangan utama.

Water repellent berkaitan dengan kemampuan permukaan kain membantu menolak pembasahan sehingga air cenderung membentuk butiran dan mengalir dari permukaan.

Sementara itu, waterproof berkaitan dengan tingkat perlindungan material terhadap penetrasi air.

Keduanya tidak boleh dianggap identik. Jaket untuk penggunaan sehari-hari yang sesekali terkena gerimis dapat memiliki kebutuhan berbeda dengan produk yang dirancang menghadapi hujan dalam waktu lebih lama.

Untuk memahami konsep tersebut lebih lengkap, baca perbedaan Water Repellent dan Waterproof pada kain.

3. Perhatikan Berat dan Gramasi Kain

Gramasi dapat memberikan gambaran mengenai berat material, tetapi kain yang lebih berat tidak otomatis selalu lebih baik.

Untuk jaket yang ingin dibuat ringan, mudah dilipat, dan praktis dibawa, material dengan gramasi relatif rendah dapat menjadi pertimbangan.

Sementara itu, produk untuk aktivitas yang membutuhkan struktur atau ketahanan lebih tinggi mungkin membutuhkan karakter material yang berbeda.

Karena konstruksi dan finishing juga memengaruhi performa kain, sebaiknya jangan menentukan pilihan hanya berdasarkan angka GSM.

4. Perhatikan Konstruksi Kain

Selain bahan baku dan gramasi, konstruksi kain juga penting.

Salah satu konstruksi yang banyak digunakan pada material fungsional adalah ripstop. Konstruksi ini menggunakan benang penguat yang ditempatkan secara berkala sehingga biasanya membentuk pola grid atau kotak-kotak pada permukaan kain.

Struktur tersebut dirancang untuk memberikan penguatan dan membantu membatasi penyebaran robekan ketika material mengalami kerusakan.

Namun, ripstop bukan berarti kain tidak dapat sobek dan tidak otomatis berarti waterproof.

Jika belum mengenal konstruksi tersebut, baca apa itu kain ripstop dan fungsi pola kotak-kotaknya.

5. Pertimbangkan Ketahanan Sesuai Aktivitas

Jaket untuk berjalan santai dan jaket untuk kegiatan lapangan tidak selalu membutuhkan tingkat ketahanan yang sama.

Aktivitas yang melibatkan gesekan dengan ransel, vegetasi, permukaan kasar, atau penggunaan intensif dapat membutuhkan material yang lebih sesuai terhadap kondisi tersebut.

Karena itu, jangan menilai ketahanan hanya berdasarkan satu istilah seperti polyester, ripstop, atau waterproof. Perhatikan keseluruhan spesifikasi dan konstruksi kain.

6. Jangan Melupakan Kenyamanan

Perlindungan terhadap cuaca memang penting, tetapi jaket tetap merupakan pakaian yang dikenakan pada tubuh.

Material yang sangat protektif belum tentu menjadi pilihan terbaik jika terlalu berat, kaku, atau tidak sesuai dengan aktivitas pengguna.

Beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Bobot material.
  • Fleksibilitas kain.
  • Karakter permukaan kain.
  • Kebutuhan terhadap lapisan tambahan.
  • Desain ventilasi pada jaket.
  • Kondisi cuaca tempat jaket digunakan.

Untuk beberapa produk, kenyamanan juga dapat ditingkatkan melalui desain dan konstruksi garment, bukan hanya melalui pemilihan kain utama.

7. Perhatikan Finishing dan Coating

Dua kain yang sama-sama berbahan polyester belum tentu mempunyai karakter yang sama.

Finishing atau coating dapat memberikan karakter tambahan pada material, termasuk kemampuan menolak air, perlindungan terhadap penetrasi air, tampilan permukaan, maupun karakter lainnya.

Karena itu, ketika membandingkan kain untuk jaket outdoor, lihat lebih dari sekadar komposisi seratnya.

Informasi seperti konstruksi, gramasi, proses WR/WP, coating, dan tujuan penggunaan dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap.

8. Apakah Jahitan Mempengaruhi Kemampuan Jaket Menghadapi Air?

Ya. Kemampuan produk jadi menghadapi air tidak hanya bergantung pada kain.

Ketika kain dijahit, jarum membuat lubang pada material. Sambungan kain, resleting, bagian kapucon, bukaan kantong, dan detail konstruksi lainnya juga dapat menjadi jalur masuknya air.

Untuk produk yang membutuhkan tingkat perlindungan tinggi, desain dan proses produksi harus dipertimbangkan bersama dengan kemampuan material.

Artinya, menggunakan kain dengan karakter waterproof saja tidak otomatis membuat seluruh jaket menjadi sepenuhnya waterproof.

9. Pilih Kain Berdasarkan Produk, Bukan Istilah Marketing

Istilah seperti waterproof, outdoor, technical, atau ripstop memang membantu menjelaskan karakter material, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan.

Sebelum produksi, bandingkan kebutuhan produk dengan spesifikasi kain yang sebenarnya.

  • Bahan baku apa yang digunakan?
  • Berapa gramasi kain?
  • Bagaimana konstruksinya?
  • Apakah memiliki proses WR atau WP?
  • Apakah menggunakan coating tertentu?
  • Seberapa ringan atau fleksibel kain tersebut?
  • Apakah sesuai dengan proses produksi yang digunakan?

Untuk produksi dalam jumlah besar, membuat sampel jaket terlebih dahulu dapat membantu mengevaluasi material dalam bentuk produk nyata.

Contoh Material Ringan untuk Jaket Outdoor

Salah satu material yang dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan jaket ringan adalah Parasut WP Ripstop.

Kain ini terbuat dari 100% polyester, menggunakan konstruksi ripstop, memiliki gramasi sekitar 68 GSM, dan melalui proses WR/WP.

Karakter tersebut membuatnya dapat digunakan untuk berbagai produk ringan, termasuk jaket dan beberapa perlengkapan outdoor.

Untuk melihat spesifikasi dan karakter material secara lebih lengkap, baca panduan Parasut WP Ripstop.

Kesimpulan

Memilih kain untuk jaket outdoor tidak cukup hanya dengan mencari material yang memiliki label waterproof.

Mulailah dari fungsi jaket, kondisi penggunaan, kebutuhan terhadap air, bobot, konstruksi kain, ketahanan, kenyamanan, finishing, serta bagaimana produk tersebut akan dibuat.

Untuk jaket ringan, kebutuhan material dapat berbeda dengan jaket untuk hujan berat atau penggunaan lapangan. Tidak ada satu kain yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua kondisi.

Dengan menentukan fungsi produk terlebih dahulu, produsen dapat memilih material secara lebih tepat dan mengurangi risiko menggunakan spesifikasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Sedang mencari material ringan untuk produksi jaket? Pelajari Parasut WP Ripstop di Murmo, kemudian bandingkan karakter Water Repellent dan Waterproof serta konstruksi kain ripstop sebelum menentukan pilihan.

Kembali ke Blog & Edukasi